Header Ads

Inilah Panglima Perang Jawa Terhebat Yang Menolak Diskriminasi Etnis

Siapkah Panglima Perang terhebat dalam sejarah Jawa, maka nama Raden Mas Said bisa diajukan sebagai yang terkemuka. Inilah satu-satunya pemimpin perang asal Jawa yang berhasil menang melawan tiga lawan VOC, Keraton Jogja dan Keraton Solo.



Nama aslinya Raden Mas (RM) Said, lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 dan meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada usia 70 tahun. Saat nanti menjadi pemimpin tanah perdikanya sendiri, Praja Mangkunegaran, dia memakai gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.

Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama Raden Ajeng (RA) Wulan. Berkat jasanya melawan penjajahan VOC, beliau diberikan gelar Pahlawan Nasional.

Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, gubernur VOC, karena di dalam peperangan RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Dia menikah dengan seorang wanita petani bernama Rubiyah, yang terkenal dengan julukannya "Matah Ati".

Perang Pertama, Bersama Laskar China Menghancurkan Raja Munafik Pakubuwana II

Pada 7 Oktober 1740 Pemerintah kolonial VOC Belanda mengeluarkan perintah untuk mengurangi populasi orang China di Batavia dan Hindia Belanda. Terjadilah pembantaian besar-besaran hingga 10.000 warga etnis China tewas di Batavia. Warga China yang didaerah tidak tinggal diam, sebagai bentuk balasan mereka mulai menyerang posisi markas-markas VOC.

Suasana konflik VOC dengan etnis Cina pun dimanfaatkan oleh Kesultanan Mataram untuk menyerang hegemoni VOC di Jawa Tengah. Raja Pakubuwono II mengirim pasukan berjumlah 20.000 orang dari Kartasura menyerang markas VOC di Semarang dibawah pimpinan Patih Notokusumo. Etnis Cina yang menaruh dendam kepada VOC-Belanda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekitar 3.500 etnis Cina bergabung dengan pasukan Kesultanan Mataram.

Menghadapi serbuan dan kepungan koalisi Mataram dan etnis Cina tersebut, VOC meminta bantuan Cakraningrat IV dari Madura. Mereka berhasil memukul mundur kepungan Mataram-China dan membebaskan Markas VOC Semarang.

Bahkan Cakraningrat IV berhasil mengalahkan para pejuang China di wilayah timur. Setelah kekalahan itu, Pakubuwono II menjadi ciut  nyalinya dan berbalik menjilat mendukung VOC.

Sikap pengecut dan munafik dari Pakubuwono II ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan. Para pejuang anti VOC baik dari kalangan Jawa maupun China merasa telah dikhianati oleh Raja yang lebih mencintai penjajah dibandingkan kemerdekaan.

Target para pejuang anti penjajahan VOC dialihkan, kali ini mereka menjadikan Pakubowono II sebagai musuh utama. Inilah Perang pertama yang diikuti oleh RM Said dibawah dipimpin oleh Raden Mas Garendi (yang disebut "Sunan Kuning").

Saat itu dia baru berumur 19 tahun, diangkat menjadi panglima perang dengan gelar Pangeran Perang Wedana Pamot Besur. Pasukan yang dipimpinya bertarung gagah berani dan berhasil merobohkan tembok benteng kraton Kartasura setinggi 4 meter roboh. Pasukan pemberontak berhasil menerobos masuk Keraton Kartasura yang menjadi Ibukota Mataram saat itu, lalu membakarnya sampai habis.

Pakubuwono II berhasil diklahkan, tapi melarikan diri ke Ponorogo memohon perlindungan pada Kyai Ageng Besari di Tegalsari.

6 bulan kemudian, Paku Buwono II dengan bantuan Belanda berhasil merebut kembali Kartasura namun sudah rata dengan tanah. Lalu memindahkan istananya ke Desa Sala di pinggir Bengawan Solo, Kota Surakarta saat ini.

Kebijakan itu dibayar mahal. Wilayah pantai utara mulai Rembang, Jawa Tengah, hingga Pasuruan, Surabaya dan Madura di Jawa Timur harus diserahkan kepada VOC.

Setiap pengangkatan pejabat tinggi Keraton wajib mendapat persetujuan dari VOC. Posisi raja tak lebih dari Leenman, atau “Peminjam kekuasaan Belanda”.


Mendapat Tambahan Kekuatan Melawan VOC Belanda

Setelah Sunan Kuning gugur di tangan pasukan VOC dan Cakraningrat IV. RM Said membawa sisa pasukan mundur ke daerah Yogyakarta. Dia tetap melanjutkan perlawanan melawan VOC dan Raja Pakubowono II.

Pada tahun 1746, Pangeran Mangkubumi (adik Raja Pakubuwana II) bergabung dalam perjualan RM Said. Sebagai tanda kesetiaan, dia dinikahkan untuk kedua kalinya dengan Raden Ayu Inten, Puteri Mangkubumi. Sejak saat itulah RM Said memakai gelar Pangeran Adipati Mangkunegara Senopati Panoto Baris Lelono Adikareng Noto.

Ketika berada di pedalaman Yogyakarta, ia mendengar kabar bahwa Paku Buwono II wafat. Ia menemui mertuanya Mangkubumi, dan memintanya bersedia diangkat menjadi Raja Mataram.
Mangkubumi naik tahta di Mataram Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati Ngaloka Abdurrahman Sayidin Panotogomo.

Penobatan ini terjadi pada “tahun Alip” 1675 (Jawa) atau 1749 Masehi. Mangkunegoro diangkat sebagai Patih (perdana menteri) sekaligus panglima perang dan istrinya, Raden Ayu Inten, diganti namanya menjadi Kanjeng Ratu Bandoro.

Dalam upacara penobatan itu, Mangkunegara berdiri di samping Mangkubumi. Dengan suara lantang ia berseru, “Wahai kalian para Bupati dan Prajurit, sekarang aku hendak mengangkat Ayah Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Yogya Mataram. Siapa dia antara kalian menentang, akulah yang akan menghadapi di medan perang.”

Meski demikian, pemerintahan Mataram Yogyakarta berpusat di Kotagede itu tidak diakui Belanda. Belanda malah mengangkat Pangeran Adipati Anom, putra Pakubuwono II menjadi raja bergelar Pakubowono III.  (sumber: wikipedia)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.